Sesekali jika kita mengamati keadaan di lampu merah jalan raya protokol, cobalah anda perhatikan berapa banyak mobil mewah yang melintas. Barangkali mobil-mobil setaraf BMW, Mercedes Benz S-Class, Toyota Alphard, Vellfire, Audi, dan lain sebagainya, sudah menjadi pemandangan yang umum di jalan. Tapi pusatkan pandangan anda lebih detail lagi, di pinggiran trotoar jalan tersebut para pengamen, pedagang asongan, bahkan ada pula pengemis berdiri lusuh layu dibalik senyum sipu mereka seraya berharap mendapatkan belas kasih dari kendaraan yang melintas.
Ya, inilah salah satu potret kehidupan di sudut Jakarta, Ibukota negara yang selalu didambakan setiap orang. Di satu sisi kita melihat orang dengan mudahnya mengeluarkan 50 hingga 200 ribu rupiah setiap hari untuk membeli bahan bakar kendaraan, disisi lain masih terdapat saudara-saudara kita yang mencari peruntungan di pinggir jalan hanya untuk mengisi perut mereka yang kosong.
Hal yang sama hampir terjadi dari kepemilikian tempat tinggal. Jika kita lihat banyak sekali apartemen maupun perumahan dengan berbagai tipe dan cluster yang harganya mulai dari ratusan hingga miliaran rupiah, namun ada pula saudara kita yang hidup di bantaran sungai, pinggir rel, ataupun di kolong jembatan.
Kontras sekali keadaannya. Banyak orang yang mengatakan ekonomi kita telah membaik, laju pembangunan cukup tinggi, sehingga angka kemiskinan pun telah turun. Tapi apakah yang terjadi sebenarnya? Jika pun itu benar, siapa saja yang telah menikmati kue pembangunan negara ini?